Islam, Agamaku
Blogger Skin
Kisah-kisah yang Menggugah
Menjadi Muslimah
Catatan Harian Menjadi Muslimah
 

Friday, June 16, 2006

Kronika Budaya Andalusia

“Di depan kita musuh berada
Di belakang kalian lautan samudra
Hanya satu pilihan bagi kita:
'Menang'!!!”

(Jargon Kontroversial versi Sejarah Islam).

Menang adalah pilihan. Spekulasi yang keluar dari teriakan Thariq bin Ziyad menjadi legendaris tatkala empat kapal yang membawa 12000 tentara bersandar di pantai persis di balik bukit bebatuan yang kini terukir dengan nama Gibraltar itu dibakarnya sendiri (dari bahasa Arab: Jabal Thariq, bukit Thariq).

Di musim semi pada tahun 711 M merupakan awal Thariq mengukir babak baru dalam perjalanan sejarah selanjutnya. Perang di daerah Rio Barbate berkecamuk antara bala tentara Tariq dan pasukan Roderic, Raja Spanyol-Visigoth. Roderic kalah dengan luka yang parah dan jasadnya tak pernah terketemukan sampai kini.

“Moors”, orang-orang Spanyol menyebut Thariq dan bala tentaranya. Hal itu dimungkinkan karena mereka berangkat dari Maroko. Orang-orang Moors sendiri tidak pernah menyebutnya demikian. Mereka adalah orang-orang Arab yang berasal dari Damaskus dan Madinah, kemudian bersama-sama orang-rang Berber mualaf sebagai tentara untuk penaklukan atau pembebasan (futuhah=babad) ke semenanjung Iberia yang akhirnya di sebut Andalusia.

Setelah pembebasan Andalusia tersebut mereka mulai adaptasi dengan komunitas baru. Sesuai dengan kondisi sebagai serdadu yang tidak memberi peluang untuk membawa wanita, mayoritas mereka mengawini orang-orang Spanyol maupun Visigoth, atau mengawini budak-budak Galicia untuk dijadikan istri. Dari sinilah akulturasi terbentuk dengan sendirinya selama 900 tahun hingga menjadi peradaban Independen yang mampu mengubah wajah dan jiwa bangsa Spanyol sepanjang masa, yaitu peradaban Moors atau sering disebut juga Peradaban Islam Andalusi (al Hadlarah al Islamiyah al Andalusia).

Peradaban Kosmopolitan

Di antara barbagai futuhah Arab-Islam, pembebasan Andalusia memberikan dampak yang berbeda. Fenomena yang menyolok antara pembebasan Andalusia dengan negeri lain di Arab Timur (al Masriq al ‘Arabi) dan Afrika Utara adalah bahwa Andalusia merupakan negeri kosmopolitan atau meminjam istilah Ibn Khaldun dengan Al ‘Umran al Khadlari (Peradaban Urban) sedangkan yang lain adalah al ‘Umran al Badawi (Peradaban Nomad). (al Jabiri:1999).

Pranata sosial yang telah berlaku di Andalusia sebelum dan sesudah futuhah adalah paranata sosial kota. Penduduknya merupakan penduduk kota atau para petani yang menetap di kota yang kedua bentuk masyarakat tersebut terikat dalam jalinan organis dalam sebuah kota provinsi. Sehingga yang berlaku dalam futuhah Andalusia adalah pembebasan dari kota ke kota, artinya tidak menggunakan sistem penaklukan dari suku ke suku lain seperti yang terjadi di wilayah yang berbentuk al ‘Umran al Badawi dengan konsekuensi logis apabila kepala suku masuk ke agama Islam maka otomatis anggota suku tersebut memeluk Islam juga.

Adapun Andalusia tidaklah demikian, bentuk kemasyarakatan plural tidak terpengaruh dengan
penaklukan Arab yang memeluk agama Islam. Mereka masih tetap mengikuti adat-istiadat dan agama yang dianutnya. Dan Arab -Islam secara damai tidak mempersoalkan mengenai agama maupun adat mereka, bahkan dengan sendirinya Arab-Islam (termasuk di dalamnya: Berber) mulai adaptasi dengan pranata sosial dan budaya yang berlaku pada masyarakat kota, sehingga
lama-kelamaan sosial-budaya mereka beralih menjadi “orang-orang Andalusia” atau dengan kata lain adalah warga resmi Andalusia yang dijalin dengan pranata ashabiyah Andalusiah (keterikatan emosional sosial dan budaya Andalusia) dan pada perkembangan futuhah, pranata sosial-budaya tersebut beralih pada ashabiyah madiniyah (keterikatan emosional warga kota) seperti pada kota Cordoba, Sevilla, maupun kota lainnya. Sehingga dapat memperkuat karekter kota di Andalusia dan jadilah satu-kesatuan peradaban yang punya spesifikasi sendiri untuk dapat dipelihara dan dibanggakan.

Setrategi Kebudayaan

Karakteristik peradaban Andalusia pada awalnya masih mengikuti unsur-unsur umum menyangkut elemen kekuasaan yang berada di sebelah Afrika Utara (al Maghrib al ‘Arabi) bahkan secara politik masih berpusat di Damaskus, Syiria. ketika masa Umayah dan di Baghdad ketika peralihan kekuasaan khilafah ke tangan dinasti Abbasiah.

Menarik karakteristik peradaban Islam secara goegrafis pada akhir keruntuhan dinasti Umayah pada umumnya dibagi menajadi dua yaitu Maghrib yang meliputi Maroko, Aljazair dan Andalusia. Dan Masriq meliputi Baghdad, Kufah, Basrah dll. Sedangkan secara spesifik, karakter Andalusia maupun Maghrib terbagi menjadi tiga prespektif.

Pertama, prespektif historis. Seperti yang dikemukakan al Jabiri bahwasanya wilayah Andalusia dan Maghrib tersebut tidak memiliki “mauruts al qadiimah”, artinya masyarakat tersebut tidak mengenal sistem peninggalan-peninggalan berupa pengetahuan dan keyakinan kuno pra-Islam yang perlu dibangkitkan guna membuat dominasi ideologi dan kekuasaan. Meski mereka tetap mengikuti keyakinan agamanya; kristen maupun yahudi. Mereka tidak mempunnyai kepentingan dominasi untuk melakukan penyusupan dalam agama, kebudayaan maupun kekuasaan Islam.

Kedua, prespektif geografis. Wilayah Andalusia dan Maghrib merupakan wilayah yang jauh dari
persaingan politik, ideologi, budaya antara kekuasaan Abbasiah dan Fathimiyah. Hal ini memberi kesempatan bagi penguasa Umayyah di Andalusia dengan wilayah yang masih berbentuk propinsial yakni menginduk pada pemerintahan pusat Abbasiah di Baghdad, guna menancapkan kekuasaan yang lebih kuat secara politik. Abdurahman III an Nashir (912-962 M) memproklamirkan diri menjadi khalifah yang independan dari kekuasaan Baghdad. Bahkan disela-sela itu, kebangkitan pemikiran ilmu pengetahuan di Andalusia sebagai strategi kebudayaan, dapat dicanangkannya secara lebih konkrit.

Ketiga, prespektif ideologis. Sejarah Islam dari kurun ke kurun selalu diisi dengan persaingan ideologi keagamaan. Hal ini mempengaruhi sistem sosial, politik dan budaya yag ada di Andalusia. Pada masa tersebut adalah masa skisma ideologi dan politik yang lagi genting-gentingnya dalam mempengaruhi ideologi resmi kekuasaan. Kekuasaan Baghdad mengangkat mazhab Hanafi sebagai ideologi resmi. Lalu muncullah madzhab Maliki sebagai tandingan secara ideologis dan oposisi secara politis terhadap kekuasaan Abbasiah.

Ketika mazhab Maliki berkembang di Andalusia maka pihak kekhalifahan memilihnya untuk dijadikan ideologi resmi negara. Dari sudut politis, demikian ini sangat memberi dampak positif bagi pihak kekhalifahan Andalusia untuk menandingi kekhalifahan Baghdad dan Masriq pada umumnya.

Otoritas para ahli fiqh mazhab Maliki dalam mengatur soal agama dan pemikiran sangatlah luas
hingga menjadi acuan masyarakat demi kepentingan status-quo, seperti pelarangan studi filsafat. Sebagai konsekuensi logis, akhirnya masyarakat Andalusia lebih tertarik mendalami ilmu-ilmu yang tidak dipermasalahkan unsur ideologinya oleh para ahli fiqh status-quo semisal matematika, astronomi dan logika.

Ideologi sebagai target proyek kebudayaan Namun dalam perkembangannya, pihak kekhalifahan Umayyah mencabut larangan para ahli fiqh dalam mempelajari filsafat tersebut sehingga perjalanan kebudayaan berjalan dengan baik, dari proyek kebudayaan yang dipelopori Ibnu Hazm hingga mencapai kematangan pada masa Ibnu Rusd dalam mengulas pemikiran filsafat Aristoteles. Namun konteks pencanangan strategi budaya tersebut tetap tak lepas dari frame "target kepentingan ideologis" untuk memperkuat status quo.

Menurut catatan sejarah kontemporer menuliskan perkembangan sosial budaya yang sangat fantastis pada masa tersebut. Cordoba sebagai ibukota Andalusia mempunyai 21 Suburb, 500 masjid, 300 pemandian umum, 70 Perpustakaan, beberapa mil jalan besar, lampu jalan, hingga menjadikan Cordoba sebagai kota terbesar di Eropa Barat. Dan saksi yang masih tersisa kebesarannya adalah masjid Cordoba yang dibangun pada awal kepemerintahan dinasti Umayah (National Geographic Vol. 174, no. 1, July 1988)

Seni arsitektur pun lebih berkembang dengan pesat dan didukung kekuasaan. Tahun 961 M di
bawah kepemerintahan al Hakam II, pembangunan kota kecil yang disebut madinat al Zahra diselesaikan selama 25 tahun. Kota kecil yang berada 5 mil di barat daya kota Cordoba merupakan kota termegah yang menghabiskan biaya negara terbesar ketiga. Kemewahan tersebut diperhitungkan sesuai dengan populasi yang menghuni kota tersebut, keluarga Hakam II, para Jenderal, hingga tukang kebunnya saja mencapai jumlah 20.000 orang. Pengawal kerajaan berjumlah 12.000 dan hareemnya berjumlah lebih 60.000 orang.

Dari sini mulailah masa keruntuhan dinasti Umayah terlihat. Kesenjangan sosial pun mulai merentang panjang. Kemewahan seorang khalifah memberikan jarak pada sisi-sisi gelap penduduk Andalusia. Kriminalitas mulai meningkat dan kerusuhan mulai terangkat ke permukaan. Hingga beberapa pemegang kekuasaan kecil di kota-kota Andalusia mulai tumbuh keterikatan warga kota secara separatif (al 'ashabiyah madiniyah) karena tidak puas dengan kekuasaan sentral Cordoba. Beberapa mereka meminta bantuan raja Spanyol utara. Alcid, dari kata Arab as Sayyid, itulah sebutan yang sangat populer orang Islam untuk orang kristen utara yang mau membantu memerangi penguasa kota lain seperti yang terjadi pada saat emir dari Zaragoza mengambil alih kekuasaan Valencia.

Masa perpecahan ini memberikan peluang bagi tumbuhnya raja-raja kecil, muluk at tawaif (1009-1031M) untuk mengatur wilayahnya yang hanya sebatas kota. Hal yang menarik dari pada masa tersebut adalah masa yang sangat kompetitif di berbagai bidang kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Para akademisi dan seniman saling bersaing untuk menampilkan kelebihan masing-masing negara-kotanya. Sehingga memberikan identitas yang berbeda-beda di setiap negara kota tersebut.

Meski pada masa tersebut Cordoba bukan lagi menjadi sentra kekuasaan namun identitas intelektualnya masih melekat sehingga kota tersebut dikenal sebagai pusat mazhab pemikiran teoretis dan spekulatif, sedangkan Sevilla sebagai pusat seni sastra. Sementara Toledo dan Zaragoza terkenal dengan aliran matematik dan sains.

Perkembangan politik tidak banyak mempengaruhi kebudayaan. Keporakporandaan sistem politik tidak mesti memporak-porandakan bangunan kebudayaan dan pemikiran kecuali setelah datangnya penguasa Almuravid (al Murabitun) pada tahun 1085 pimpinan Yusuf ibn Tashufin dari gurun pasir Maghrib dan beraliran Maliki yang jumud serta fanatik. Awal kedatangannya pada dasarnya bertujuan meredam disintegrasi Andalusia pada masa muluk at tawaif dan mempertahankan Andalusia menghadapi serangan Kerajaan Kristen dari utara yang telah menguasai Castilla dan Leon. Akan tetapi secara kontradiktif dinasti Almuravid sangat menyukai budaya bermewah-mewah dan foya-foya.

Kondisi yang memprihatinkan pada tahun 1145 itu, memunculkan sebuah gerakan revolusioner yang dipimpin oleh al Mahdi ibn Tumart dengan membangkitkan kembali konsep Ibn Hazm dengan mazhab zahiriyah-nya untuk menghimpit ideologi Imam Malik di wilayah Andalusia. Mereka disebut dinasti AlMohad (al Muwahidun). Mereka mengembangkan proyek kebudayaan dalam frame ideologis hingga pada masa puncaknya yakni pada masa khalifah Almohad III, Ya’qub al Mansur. Madzhab Ibn Hazm menjadi ideologi resmi dan Pemikiran fiqhiyah far’iyah dan qiyas Madzhab Maliki diberangus secara represif. Bagi yang melanggarnya akan dihukum keras dan mengharuskan bagi warga Andalusia untuk kembali menafsirkan Al Qur’an dan Hadits dengan makna zahir.

Proyek kebudayaan dan ilmu pengetahuan juga berkembang ketika al Mansur mencabut kembali larangan mempelajari filsafat yang telah dilarang pada zaman al Muravid dan menghimpun buku-buku filsafat serta ilmu-ilmu pra-Islam. Kemudian ia menugaskan Abu al Walid Ibn Rusyd untuk meringkasnya serta memberi komentar penting mengenai filasafat Aristoteles. Hal tersebut mengingatkan kembali pada masa dinasti Umayyah yang dipimpin al Muntasir dan Hakam I. Akhirnya ada kesinambungan politik kebudayaan dalam mengentaskan proyek kebudayaan yang terjadi di Andalusia.

Akan tetapi pada tahun 1212, Dinasti Almohad berhasil dipukul mundur oleh kerajaan Kristen
Utara dalam peperangan al ‘Iqab (hukuman balasan) atau orang Spanyol menyebutnya sebagai "La Navas de Tolosa". Almohad mundur melewati selat Gibraltar menuju Granada. Kota-kota Andalusia telah dikuasai Kristen Utara.

Proyek kebudayaan Andalusia pun berlanjut di kota Granada, dengan dibangunnya istana al Hambra. Perkembangan arsitektur dan astronomi menjadi identitas utama. Sementara di pihak lain, proyek kebudayaan tersebut juga dilanjutkan oleh kerajaan Kristen di bawah Raja Alfonso X dengan mendirikan sekolah penerjemahan dengan mempekerjakan para ilmuwan Kristen, Muslim dan Yahudi berkolaborasi untuk menerjemahkan manuskrip Arab ke bahasa Latin seperti, komentar-komentar Ibn Rusyd (Averoes) terhadap filsafat Aristoteles, al Jabar dan matematikanya al Khawarizimi (Logarithma), Cannon Ibn Sina (Avecienna). (National Geographic Vol. 174, no. 1, July 1988)

Strategi kebudayaan yang diarahkan ke ideologi demi mempertahankan kekuasaan merupakan
bumerang bagi pelaku kebudayaan tersebut. Sebab konflik ideologi tidaklah pudar dari masa ke masa seperti konflik yang terjadi antara Dinasti Abbasiah yang bermadzhab sunni Asy‘ari, Dinasti Fatimiyah yang bermadzhab Syi’i-Ismaily dan Almohad yang bermadzhab Ibn Hazm. Bahkan yang terakhir adalah konflik yang terjadi antara Almohad sendiri dengan Kristen-Katolik.

Di penghujung 1491 tentara Ferdinand dan Isabella memasuki tapal batas Granada kemudian menemui Muhammad XII Abd Abillah (atau Boabdil) guna mengadakan perundingan peralihan kekuasaan. Secara tertutup Boabdil menerima perundingan penyerahan kekuasaan Granada dengan perjanjian damai (The Solemn Declaration) terdiri 67 pasal yang intinya agar penduduk Muslim di Granada tetap bebas melakukan aktifitas keagamaan dan kehidupan mereka. Dan Boabdil minta jaminan keselamatan untuk meninggalkan Granada.

Stanley Lane-Poole dalam buku klasiknya “The Moors in Spain” tahun 1887 menceritakan detik-detik kepergiannya Boabdil dari istana Alhambra.

“Allahu Akbar!!!” teriaknya tertekan dengan kepedihan mendalam saat ia berhenti sejenak menengok kembali ke belakang melihat Alhambra. Aisyah, ibunya yang berdiri di sampingnya, memberikan komentar: “Kau dapat menangis selayaknya wanita…” katanya, “…. Tapi kenapa kau tidak bisa melakukan perlawanan selayaknya pria…?”

Pada tanggal 2 Januari 1492, tepatnya di wilayah Alpujara, tempat Boabdil menghentikan langkahnya yaitu di jalan kecil yang kini menjadi legenda, bernama Jalan El ultimo Sopiro del Moro. Sebuah jalan yang berarti: Nafas terakhir orang-orang Moors.